Sebelumnya, pendukung suatu klub bersifat individualis, sendiri-sendiri
atau dalam kelompok kecil. Mereka mungkin saja patriotis di stadion,
tetapi identifikasi dan simbolisasi diri pendukung terhadap klub
berhenti begitu laga usai dan lampu stadion dipadamkan. Mereka bersifat
anonim dan sama sekali bukan merupakan bagian spiritual dari klub.
Kata
Ultras dimaknai sebagai lebih, sangat, luar biasa atau ekstrem. Dalam
sepakbola Ultras mengacu kepada kelompok pendukung atau fans yang
terorganisasi, memiliki kode berperilaku yang bersifat komunal,
cenderung eksklusif serta memiliki identitas yang kuat serta loyalitas
tak terbatas kepada tim sepakbola yang didukungnya. Ultras lebih
daripada sekedar hadir di stadion dan memberi dukungan, ultras adalah
sebuah totalitas mental, sikap dan perbuatan dalam mendukung klub, di
dalam dan di luar stadion, saat ada dalam kelompok dan saat sendiri,
saat menang dan saat kalah, saat klub di puncak kejayaan dan saat klub
di nadir keterpurukan. Maka, empat nilai penting pada Ultras adalah
kehormatan, totalitas, loyalitas dan solidaritas.
Cikal Bakal Ultras
Kelompok
Ultras pertama di dunia terbentuk justru bukan untuk mendukung sebuah
klub, melainkan untuk mendukung tim nasional. Torcida Organizada
terbentuk di Brasil tahun 1939 untuk mendukung timnas mereka. Perang
Dunia Kedua yang melanda Eropa membuat gagasan Ultras ini sedikit
terlambat berkembang ke benua biru. Barulah pada 1950 Ultras pertama
Eropa lahir di Yugoslavia, ketika pendukung klub Hajduk Split membentuk
Torcida Split.
Hanya butuh waktu satu tahun, gagasan Ultras ini
masuk ke Italia. Tahun 1951 lahirlah Ultras pertama di Italia,
Fedelissimi Granata yang mendukung klub Torino. Fenomena Ultras ini
makin meluas di Italia. Maka bermunculanlah kelompok Ultras seperti
Fossa dei Leoni (Milan, 1968), Boys LFN (Internazionale, 1968), Ultras
Sampdoria (Sampdoria, 1969) Commandos Monteverde Lazio/CML (Lazio,
1971), Yellow-blue Brigade (Hellas Verona, 1971), Viola Club Viesseux
(Fiorentina, 1971), Ultras Napoli (Napoli, 1972), Griffin Den (Genoa,
1973), For Ever Ultras (Bologna, 1975), Black and Blue Brigade
(Atalanta, 1976), Fossa dei Campioni dan Panthers (Juventus, 1976), dan
Commando Ultra Curva Sud/CUCS (Roma, 1977).
Modus operandi
terbentuknya kelompok-kelompok ini beraneka-ragam. Menggabungkan
kelompok-kelompok kecil yang sudah ada sebelumnya, dari sosialisasi di
cafe atau bar, kelompok di sekolah atau kampus, komunitas suatu area
geografis tertentu, partai politik dan sebagainya. Usia mereka saat
terbentuknya kelompok ini biasanya berkisar antara 15-25 tahun.
Kelompok-kelompok
pertama yang terbentuk di atas biasanya tidak bertahan lama. Kelompok
baru dari klub yang sama bermunculan, bersaing dan menyisihkan yang
sebelumnya. Atau, beberapa kelompok melakukan merger. Dipenjarakannya
tokoh-tokoh suatu kelompok Ultras akibat kerusuhan juga sering menjadi
pemicu bubar. Hal yang paling sering terjadi adalah perpecahan dalam
suatu kelompok akibat masuknya kepentingan partai politik yang
memanfaatkan kekuatan Ultras, komersialisasi Ultras dalam memproduksi
dan menjual merchandise, atau masuknya kelompok “swing ultras” alias
para “glory hunters”. Mereka yang disebut terakhir ini adalah pendukung
yang berpindah klub seiring naik-turunnya prestasi klub, sehingga
melunturkan nilai-nilai Ultras itu sendiri. Fossa dei Leoni hingga kini
tercatat sebagai Ultras yang paling lama bertahan (1968-2005).
Regenerasi
anggota pada kelompok Ultras biasanya dilakukan secara turun-temurun
dalam keluarga, dalam suatu institusi sosial-budaya seperti sekolah,
kampus, klub-klub hiburan dan sebagainya. Penanaman nilai-nilai Ultras
ini berlangsung sejak usia dini secara alamiah
Independensi
Nilai
penting lain yang dianut Ultras adalah independensi. Nilai terakhir ini
secara masif diperkenalkan oleh Irriducibili Lazio yang terbentuk tahun
1987. Penerapan independensi membatasi loyalitas Ultras hanya kepada
tim atau para pemain, dan mengambil posisi independen terhadap pihak
lainnya termasuk partai politik, sponsor dan terutama terhadap manajemen
klub.
Setelah hadirnya Irriducibili Lazio, maka Ultras di Italia
tersegregasi menjadi Ultras Keras dan Ultras Lunak. Kelompok keras akan
menolak bantuan dalam bentuk apapun dari manajemen klub, mereka mandiri
secara finansial, mengeluarkan uang pribadi untuk tiket dan biaya
perjalanan dari kota ke kota mengikuti para pemain yang bertanding serta
untuk memproduksi peraga (tifo) dalam stadion. Tak heran, fans Lazio
misalnya, dapat bersikap sangat konfrontatif terhadap manajemen Lazio
sendiri demi kepentingan pemain dan tim, yang diyakininya. Kelompok
Ultras keras ini bersikap protektif membela pemain dan memprotes
kebijakan manajemen klub saat prestasi kub melorot.
Kelompok
lunak ini cenderung sejalan dengan manajemen klub dan sangat bergantung
pada manajemen klub dalam hal pendanaan untuk keperluan spanduk atau
bendera, penyediaan sarana gudang atau sekretariat, diskon tiket dan
bahkan penyediaan sarana transportasi. Kelompok Ultras dari Juventus
misalnya, sebagian besar terdiri dari keluarga dan kerabat pabrik mobil
Fiat dan pemasoknya, mereka dikoordinasi dan dibiayai oleh keluarga
besar Agnelli. Sementara kelompok Ultras di Internazionale memiliki
hubungan finansial yang erat dengan keluarga besar Moratti. Beberapa
kelompok bahkan memakai nama sang taipan minyak Italia tersebut pada
nama grupnya. Kelompok Ultras lunak ini cenderung membela manajemen klub
dan menyalahkan pemain atau pelatih jika prestasi klub merosot.
Apapun,
Ultras lebih daripada sekedar pendukung klub. Ultras adalah jalan
hidup, gaya hidup dan mentalitas. Tahun 2009 kelompok Ultras keras dari
Lazio, Roma, AC Milan, Catania, Genoa dan Napoli mengadakan demonstrasi
besar di kota Roma menentang penindasan atas Ultras dan pembatasan masuk
stadion. Mereka mengeluarkan deklarasi bersama. Isi deklarasi ini dapat
menggambarkan, bagaimana mentalitas Ultras itu sesungguhnya.
Ultras, a Way of Life:
“Kami
berbeda dari yang normal dan biasa. Berbeda dari rata-rata, dari yang
umumnya ada. Kehormatan, totalitas, loyalitas dan persahabatan. Ultras
adalah tentang nilai-nilai idealisme yang diterapkan sepanjang masa.
Ultras bukan tentang yang terbaik atau yang teratas , melainkan tentang
mentalitas. Mentalitas yang hanya ada pada Ultras. Mentalitas yang yang
lebih kuat dari segala tekanan. Pelarangan masuk stadion dan jeruji
penjara, tak ada yang dapat menghentikan kami. Kami Ultras, tindaslah
kami, maka bara tekad kami akan semakin besar. Kami memercayai
mentalitas Ultras. Sepakbola telah sakit, benar-benar sakit. Semuanya
hanya tentang uang, uang dan uang. Sepakbola normal telah diabaikan,
stadion tak pernah terisi penuh. Mereka menyalahkan Ultras, tapi kami
tahu lebih baik daripada mereka.”
“Kamilah bagian termurni yang
bertahan dari sepakbola. Kami mengeluarkan ratusan euro dan menempuh
ribuan kilometer ke segenap pelosok Italia untuk mewakili kota kami,
warna dan klub kami. Kekerasan bukan lagi yang terpenting, karena kalian
akan selalu menemukan kekerasan dimanapun kalian berada, di setiap
kebudayaan dan di setiap negara. Mereka mengatakan bahwa Ultras merusak
sepakbola. Salah besar! Uang, doping, menyuap pemain dan membayar wasit
serta pemain yang digaji tak masuk akal tingginya, itulah yang merusak
sepakbola. Kamilah yang selalu meneriakkan dukungan bagi tim kami,
setiap hari, setiap minggu. Salju, hujan dan teriknya matahari bukan
masalah bagi kami. Kami membenci sistem kalian, kami melawan penindasan
kalian, dan akan selalu begitu. Ayah-ayah kami dulu memenuhi Curva, kini
kami yang ada di sana, dan kelak putera-putera kami yang akan
menggantikan. Kami akan menanamkan kepada mereka nilai-nilai yang kami
anut, membuat mereka mengerti tentang mentalitas kami, sehingga mereka
akan melalui jalan hidup yang sama dengan kami. Generasi tua hilang,
generasi baru muncul, tetapi idealisme Ultras akan tetap sama sepanjang
masa.”